Pemerintah Malaysia Gandeng FH UMY Kaji Sistem Administrasi Tanah Pra dan Pasca Bencana di Indonesia

Bencana alam seperti gempa bumi, banjir, tsunami, dan tanah longsor saat ini menjadi sebuah kejadian yang semakin sering terjadi di negara-negara Asia Tenggara. Hal ini menuntut setiap elemen termasuk institusi pendidikan dan pemerintah di Asia Tenggara untuk mengkaji masalah ini lebih dalam. Sistem perundang-undangan tentang Administrasi tanah, menjadi penting dalam meminimalisasi permasalahan yang timbul jika terjadi bencana.
Hal ini melatarbelakangi kerjasama yang diadakan International Program For Law & Sharia Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Yogykarta UMY (IPOLS FH UMY) dengan  Institut Tanah Ukur Negara (INSTUN) Kementrian Sumber Asli dan Alam Sekitar Kerajaan Malaysia, dan Ahmad Ibrahim Kulliyyah of Laws,  International Islamic University of Malaysia (AIKoL IIUM) dalam penyelenggaraan Colloquium “Sistem Pendaftaran dan Administrasi Pertanahan Pra dan Pasca Bencana Alam di Indonesia dan Malaysia” Selasa-Sabtu (20-24/12) di Yogyakarta.
Menurut Direktur IPOLS Yordan Gunawan yang ditemui di sela-sela acara di All Season Hotel, Kamis (22/12), Colloquium menjadi sebuah ajang bertukar pikiran secara mendalam mengenai bagaimana proses administrasi dan inventarisasi tanah baik sebelum maupun setelah bencana. Setelahnya diperlukan pemahaman mengenai isu-isu dan masalah yang dihadapi. “Tidak hanya sekedar pada tataran teori, tetapi juga secara praktis. Pada akhirnya bersama-sama kita dapat menemukan sistem yang lebih baik”, jelasnya.
Menurut Yordan, menjadi sangat penting bagi kita untuk merancang sistem administrasi pertanahan yang jelas sebelum bencana terjadi. Pendaftaran kepemilikan tanah, pemberian hak serta perundang-undangan lain sangat diperlukan untuk mengantisipasi kondisi tidak terduga pasca bencana alam, misalnya sengketa tanah.
Colloquium menghadirkan Dosen FH UMY, Dr. Johan Erwin Isharyanto, S.H., M.H., pimpinan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Wilayah DIY, Kabupaten Sleman dan Bantul. Para pembicara akan menjelaskan sistem administrasi dan inventariasi tanah pra dan pasca bencana di daerah masing-masing. “Kabupaten Bantul dan Sleman memiliki sistem yang cukup berbeda dalam penanganan hal ini. Di Sleman ada erupsi Merapi, di Bantul ada gempa bumi dan lain-lain. Sehingga kami perlu hadirkan keduanya” terang Yordan.
Yordan juga menjelaskan bahwa kegiatan semacam ini memang diadakan rutin oleh INSTUN di berbagai negara yang kerap mengalami bencana alam. Hal ini dilakukan pemerintah Malaysia untuk mengantisipasi bencana yang bisa datang tak terduga. UMY, menjadi pilihan untuk mengadakan kajian bersama tersebut di Indonesia. “Sebuah kebanggaan yang sangat besar bagi UMY atas kepercayaan yang diberikan untuk bekerjasama langsung dengan pihak Kerajaan Malaysia” terangnya.
Pada akhirnya Yordan mengharapkan, kerjasama seperti ini terus berlanjut demi hubungan baik Indonesia dan UMY secara khusus dengan Malaysia. “Ini merupakan aktififtas luar biasa demi perkembangan kualitas edukasi kedua negara. Sungguh mulia kiranya saat kita bersama-sama berupaya meminimalisasi permasalahan yang muncul akibat bencana alam di dunia”
Acara ini dibuka langsung oleh Dekan FH UMY Endrio Susilo, dan juga dihadiri pejabat INSTUN Mohammad Yusaimi Bin Mat Yusuf, serta Wakil Dekan AIKoL IIUM, Prof. Farid Sufian Suhaib. Selain berupa seminar, para peserta Colloquium juga dijadwalkan mengunjungi BPN DIY untuk meninjau langsung proses administrasi.

on 22 December 2011 | | A comment?

Perluas Jaringan Internasional, 6 Mahasiswa UMY Ikuti Program ke Thailand-Vietnam

Sebanyak, 6 mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berupaya membangun jaringan dengan mengikuti program International Friendship Culture Tour and Studies (IFCTS) Thailand (Bangkok) and Vietnam (Ho Chi Minh) yang diadakan organisasi Asia Pasific-indonesia Multicultural Undestanding Network (APIMUN). Program tersebut merupakan program kunjungan budaya dan persahabatan pemuda Indonesia ke Thailand dan Vietnam, 12-18 Desember 2011.
Para Ambassador bersama Atase Pendidikan KBRI Thailand, Prof. Dr. Ir. Didik Sulistiyanto

Menurut salah satu peserta IFCTS, Nudia Vebina Ayumahani saat ditemui di Kampus Terpadu UMY setelah kembali ke Indonesia, Selasa (20/12), ia bersama Taufan Himawan, Galih Dwi, Febriyani Tentyana, Rusdy Namsa, dan Dwi Auditya Muttaqien, melakukan kunjungan ke beberapa lembaga seperti Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Bangkok. Mereka langsung diterima oleh Atase Pendidikan KBRI Thailand, Prof. Dr. Ir. Didik Sulistiyanto. Mereka juga berkesempatan mengunjungiEmpower Foundation, sebuah LSM HAM yang eksis di hampir 100 negara di dunia.
Nudia menjelaskan, di era yang semakin global ini, kemampuan membangun jaringan menjadi bagian yang sangat vital untuk diperoleh sedini mungkin. Menurutnya, interaksi tanpa pandang jarak lintas negara melalui perkembangan teknologi dan informasi semakin tidak terbendung. Hal ini lalu menuntut setiap individu membuka mata seluas-luasnya. “Globalisasi artinya negara akan sekedar jadi batasan wilayah. Kita butuh jaringan internasional untuk menghadapinya. Kalau tidak, di negara sendiri pun kita bisa kalah oleh jangkauan global orang lain”, terang mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional (HI) UMY ini.
Selama mengikuti rangkaian program, para peserta IFCTS ditemani mahasiswa-mahasiswa dari Ho Chi Minh City University of Social Sciences and Humanities (HCMUSSH) Vietnam, dan Bangkok University Thailand. Dengan begitu, kita saling mempelajari bahasa, baik Vietnam, Thailand,maupun Indonesia juga Bahasa Inggris. “Yang menarik, beberapa duta Vietnam lancar berbahasa Indonesia. Ternyata Sastra Indonesia di sana cukup diminati” terang Nudia.
Para Ambassador di depan Cao Dai Temple, Vietnam
Selain mengunjungi lembaga-lembaga, Para peserta ICFTS juga mengunjungi beberapa tempat budaya di kedua negara. Di Vietnam, mereka mengunjungi Terowongan Chu Chi, Cao Dai Temple, serta pertunjukkan boneka Vietnam. Sementara di Thailand mereka mengunjungi Wat Arum, Wat Pho dan tempat bersejarah lain. Menurut Nudia, hal ini memperlihatkan kepadanya bahwa budaya di dunia sangat beragam dan kita perlu mengetahuinya.
“Di saat kunjungan-kunjungan itulah kita bertukar pikiran. Dimulai bertukar pengetahuan bahasa, budaya serta diskusi-diskusi yang diarahkan panitia. Menjadi menarik karena sepanjang perjalanan kita bertemu pengunjung dari Itaia, Inggris dan beberapa negara. Selain juga mempromosikan Indonesia, diharapkan terbangun sebuah komunitas internasional yang saling menguntungkan satu sama lain nantinya”, pungkas Nudia.
published at:

on 20 December 2011 | | A comment?

UMY Juarai Kompetisi Basket GME se-DIY

Tim Bola Basket Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) berhasil menjuarai kompetisi Bola Basket se-DIY, Gadjah Mada Econolympic (GME) 2011 yang diadakan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (UGM), 9-18 Desember 2011. Di partai final tim FISIPOL UMY secara tidak terduga mengalahkan salah satu tim unggulan, FT Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) tipis, 54-51 di GOR Amongrogo Yogyakarta.
Kejar mengejar angka sebenarnya diperlihatkan kedua tim sejak menit pertama pertandingan dimulai. Namun, konsentrasi tim FISIPOL UMY mulai hilang memasuki quarter ketiga. Bahkan FT UAJY sempat unggul hingga 10 angka di quarter ketiga. Di quarter tersebut, FT UAJY unggul sementara 41-35.
Adalah kolektifitas permainan dan semangat juang tinggi yang disebut Jeff Lauren, asisten pelatih FISIPOL UMY menjadi kunci kemenangan. FISIPOL UMY berhasil bangkit di quarter keempat. Di 1 menit terakhir FISIPOL UMY berhasil memimpin dengan 51-47 sehingga FT UAJY berbalik berupaya mengejar ketertinggalan. Namun, FISIPOL UMY justru mampu memperlebar jarak melalui free throw pemain bernomor punggung 5, Raffi di 7 detik sebelum pertandingan usai. 54-51 untuk FISIPOL UMY.
Jeff yang ditemui usai pertandingan menjelaskan, kemenangan ini menjadi sangat istimewa karena gelar juara diraih dengan mengalahkan tim sebesar UAJY. UAJY adalah tim yang selalu berhasil menjegal UMY hampir seluruh turnamen yang mereka ikuti. “Kali ini kami menang, dan ini di final. Kerja keras anak-anak selama ini akhirnya membuahkan hasil. Suporter kami pada malam ini memberikan energi tersendiri bagi para pemain. Kami sangat berterima kasih.”
Tim-tim seperti UAJY dan UGM sebenarnya merupakan tim-tim unggulan di setiap turnamen di DIY. Tim-tim tersebut selalu memliki bintang yang berpengaruh besar pada kualitas tim. Berbeda dengan UMY, Jeff menilai tidak ada satupun pemain bintang di tim ini. “Tidak ada starter, tidak ada cadangan. Semua pemain inti. Ini hebat bagi tim yang untuk latihan pun harus menyewa lapangan, tapi kami juara”, pungkasnya.
Dalam kompetisi yang diikuti 24 universitas se-DIY ini, FISIPOL UMY berhasil mengalahkan seluruh lawan-lawan yang dijumpai. FISIPOL UMY mengalahkan FK UII 23-15 dan FE UTY 23-22 di babak awal. Di perempat final FISIPOL UMY menghabisi FIK UNY 35-32. Sementara sebelum melangkah ke final, STTNAS dipaksa menyerah dengan skor 53-47 di babak semifinal.
UMY berhak meraih trophy penghargaan beserta uang pembinaan 1,5 juta rupiah. Selain itu, UMY juga berhasil menyabet penghargaan Most Valuable Player (MVP) atas nama Virgio Rizky Pradipta. Mahasiswa Hubungan Internasional (HI) UMY bernomor punggung 8 itu menyumbang 14 angka di partai final. Pemain lain, Eka Adde Setyawan bernomor punggung 11 juga menyumbang 14 angka.
published at:

on 19 December 2011 | | A comment?

Indonesia Berpotensi Kuasai Ekonomi Global

Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (HI UMY) menghadirkan Duta Besar dan Ketua Delegasi Uni Eorpa untuk Indonesia, Brunei Darussalam dan ASEAN, Julian Wilson, dalam Kuliah Umum “European Union’s Economic Challenge and Solution” di Ruang Sidang AR Fahrudin B lantai 5 Kampus Terpadu UMY. Kulaih Umum tersebut juga dhadiri Direktur Center for Good Governance (CGG), Christoph Behrens.
Dalam kuliah yang dihadiri sekitar 120 mahasiswa HI UMY tersebut, Julian menilai bahwa Indonesia terlalu tertutup dan takut untuk menghadapi globalisasi. Padahal, Indonesia memiliki potensi untuk berkompetisi dalam perekonomian global. “Indonesia adalah sebuah negara yang seharusnya kompetitif dengan kekayaan  yang ada, bahkan ada potensi mendominasi perekonomian global”.
Disebut Julian, potensi Indonesia yang paling dapat dimaksimalkan dalam bidang farmasi dan bahan –bahan kimia yang dihasilkan dari alam. Ia menyebut Indonesia memiliki sumber daya alam yang berlimpah di hutan untuk dijadikan obat-obat. “Uni Eropa, bahkan Cina mengakui Indonesia sebagai salah satu kompetitor kuat dalam ekonomi global ini. Uni Eropa pun menggunakan produk-produk Airbus Indonesia disbanding negara lain. Ini bukti Indonesia kompetitif”, katanya.
Dalam hal ini, Julian menyarankan Indonesia untuk lebih terbuka dalam menghadapai globalisasi. Indonesia seharusnya mebuka pintu-pintu negosiasi kepada investor asing untuk mengembangkan industri dengan sumber daya alam yang ada di Indonesia. Akan. nada keuntungan timbal balik dari masuknya investor. “jangan pernah takut dan anda akan menang. Pemasukan dari ekspor barang-barang jadi akan memperbaiki posisi ekonomi Indonesia di dunia”, jelasnya
Pada akhirnya Julian juga menyambut baik kegiatan diskusi yang diberikan kepada mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Menurutnya, berbeda dengan orang-orang terdahulu yang cenderung terlalu sopan dan tidak secara langsung, para pemuda Indonesia lebih berani berbicara.
published at:

on 14 December 2011 | | A comment?

Sosialisikan Gigi Implan, UMY Datangkan Ahli dari Jerman

Teknologi kedokteran gigi di dunia mengalami perkembangan yang demikian cepat sehingga menuntut para ahli di Indonesia untuk mengikuti setiap perkembangan. Salah satunya adalah perkembangan teknologi Gigi Implan atau gigi tanam. Metode ini dinilai cukup efektif dalam mengatasi berbagai permasalahan konvensional yang ada di dunia kedokteran gigi. Namun, kurangnya sosialisasi dan informasi di Indonesia membuat metode ini jarang digunakan masyarakat.
Hal ini mendorong Program Studi Kedokterean Gigi Universitas Muhammadiyah Yogykarta (KG UMY) mendatangkan Ahli Implantologi Kedokteran Gigi asal Jerman, dr. dent. Jens Schaefer untuk mengisi Workshop of Implant pada Dental School UMY, Kamis (8/12) di Convention Hall Rumah Sakit Gigi dan Mulut Pendidikan Asri Medical Center (RSGMP AMC) UMY. Selain Itu, KG UMY juga mendatangkan drg. Masykur Rahmat,Sp. BM, salah satu ahli bedah mulut di Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri lebih dari 100 mahasiswa dan dokter gigi baik dari dalam maupun luar kota Yogyakarta.
Menurut Ketua Panitia, M. Kamal Musadad, Gigi Implan sebenarnya merupakan salah satu metode yang sering di gunakan di negara-negara maju. Namun di Indonesia, permasalahan biaya menjadi masalah utama. Selain itu, metode ini memang hanya dapat dilakukan oleh dokter gigi yang memiliki kompetensi lanjutan. “Perlu pembelajaran ekstra untuk melakukan penanaman gigi implan. Maka dari itu kita berinisiatif untuk mengadakan kegiatan ini agar pengetahuan tidak hanya dimiliki secara mendasar melainkan hingga teknik-teknik implan terkini,” terangnya.
Kamal menjelaskan, Gigi Implan merupakan salah satu metode terkini gigi palsu untuk menggantikan gigi yang hilang menggantikan. Gigi implan ditanam secara permanen di dalam tulang rahang. Gigi Implan biasanya terbuat dari titanium yang berfungsi menggantikan akar gigi. Gigi yang akan ditanam ini akan memiliki bentuk dan fungsi yang kualitasnya mendekati gigi asli.
Gigi Implan, menurut Kamal, saat ini memang menjadi metode yang paling berhasil ditemukan di dunia kedokteran gigi. Metode ini menghasilkan gigi yang paling berkualitas melebihi metode-metode yang lain. “Selama ini yang umum digunakan masyarakat adalah gigi tulang lepasan, gigi tulang lengkap, dan gigi tulang cekat. Metode-metode ini jauh di bawah gigi Implan yang permanen sehingga tidak perlu melakukan pelepasan dan pembersihan gigi secara berkala. Perbedaan gigi implan hanya berupa tidak adanya gerakan individual yang dimiliki oleh gigi asli,” jelasnya.
Sementara Ketua Program Studi KG UMY, drg. Hastoro Pintadi Sp. Prost menjelaskan, selain mahal, proses pembuatan gigi implan ini menang membutuhkan waktu lama sehingga masyarakat jarang untuk memilih metode ini. “Padahal, implan gigi cukup efektif dan akan membuat pasien merasa puas. RSGMP AMC UMY pun sejak tahun ini sudah mampu melakukan metode ini sebagai pilihan kepada masyarakat sebagai tanggung jawab profesional dokter gigi”
Hastoro juga menjelaskan kegiatan seperti ini mamang dilakukan secara rutin Dentist School UMY. Selain mengembangkan wawasan keilmuan kegitan ini juga berupaya fasilitas yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan akademis maupun praktisi. “Perkembangan kedokteran gigi dunia sangat cepat sekali dan akan selalu memunculkan hal-hal baru dengan tujuan meningkatkan kualtias hidup”, tandasnya.

published at:
http://nationalgeographic.co.id/lihat/berita/2415/biaya-jadi-kendala-perkembangan-gigi-implan-di-indonesia
http://metrotvnews.com/read/news/2011/12/08/74745/Gigi-Implan-Mendekati-Gigi-Asli

on 08 December 2011 | | A comment?

Pemerintah Tak Lihat Atlit Sebagai Profesi

Kemenangan Indonesia sebagai juara umum Sea Games XXVI lalu dinilai sejumlah kalangan tidak sempurna lantaran sejumlah medali Indonesia justru diraih di cabang-cabang olahraga yang tidak diselenggarakan di pentas Olimpiade, seperti silat, panjat tebing dan lain-lain. Olahraga di Indonesia masih jauh di bawah kualitas dunia. Hal ini dikarenakan pemerintah belum tanggap dalam membuat atlit sebagai sebuah profesi yang dipilih masyarakat.
Demikian disampaikan Drs. Agus Tri Basuki, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (FE UMY) dalam diskusi publik “Di Balik Gemerlap Sea Games XXVI” yang diadakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FE UMY di Mini Theater, Gedung D Kampus Terpadu UMY, Rabu (7/12).
Pemerintah, menurut Agus memang belum melihat atlit sebagai sebuah karir profesional. Pemerintah pusat maupun daerah tidak melakukan pelembagaan pada sejumlah cabang-cabang olahraga dengan baik. Di Cina misalnya, pemerintah benar-benar melakukan pembinaan berkomitmen sejak usia dini dan menjamin kesejahteraan mereka. “Di Cina, seorang kutu buku bisa disulap jadi juara dunia angkat besi karena pencari bakat melihatnya berpotensi di cabang tersebut. Setelahnya, ada gaji yang cukup besar bagi pelatih olahraga”, terangnya.
Selanjutnya menurut Agus, Di Cina meskipun minat terhadap sebuah cabang olahraga kecil, pemerintah berupaya menimbulkan minat tersebut pada orang-orang yang dinilai berbakat. Lalu Cina mengumpulkan bakat-bakat atlit tersebut ke dalam lembaga-lembaga pendidikan yang fokus terhadap olahraga. Mereka dididik sehingga menghasilkan kualitas atlit yang maksimal, padahal pembinaannya cenderung memerlukan dana minim.
Berbeda dengan di Indonesia, pemerintah belum mampu melakukan pelembagaan seperti yang dilakukan di Cina. Banyak Pemerintah Daerah yang tidak melakukan pembinaan sejak dini. “Mereka cenderung hanya mencari atlit-atlit yang memang sudah berprestasi untuk mengikuti kejuaraan-kejuaraan yang ada, menjelang PON misalnya. Kalau bonusnya kecil, atlit akan cari daerah lain yang bonusnya lebih besar. Prestasi jadi tidak maksimal.”
Agus menjelaskan, sebenarnya ada potensi membuka lapangan kerja jika dapat membuat olahraga mejadi profesional. Hal ini dilakukan di beberapa negara Eropa seperti Inggris dan Italia yang menarik investor untuk menyelenggarakan kompetisi-kompetisi di sejumlah cabang olahraga profesional. “Hal ini dapat menggairahkan olahraga untuk semakin berkembang, dan mebuat masyarakat melihat atlit sebagai sebuah profesi, terutama sepakbola. ”,terangnya
Agus menghimbau, sekarang tinggal bagaimana pemerintah berkomitmen untuk membuka lapangan pekerjaan melalui olahraga. Karena selain pekerjaan sebagai atlit, majunya olahraga yang professional dapat menumbuhkan ekonomi rakyat dengan kebutuhan-kebutuhan akan fasilitas olahraga. “UMKM bisa berkembang untuk membuat alat-alat olahraga” tandasnya.
published at:

on 07 December 2011 | | A comment?

Dituntut Mandiri, Mahasiswa Jangan Terpaku Dosen

Perguruan tinggi sebagai penyelenggara pendidikan tertinggi selalu dituntut untuk memiliki dosen sebagai pengajar yang berkualitas. Tidak seperti guru, seorang dosen lebih diposisikan sebagai fasilitator pengembangan intelektual mahasiswa. Permasalahannya, mahasiswa baru seringkali terjebak pada lingkungan SMA dengan keberadaan guru sehingga kesulitan melakukan pengembangan diri.
Demikian disampaikan Ketua Prodi Akuntansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ahim Abdurahim, SE., M.Si, Akt di sela-sela kegiatan Bridging Mahasiswa Akuntansi UMY 2011/2012, “Improving Your Intellectual and Moral Capacity toward Prospective Accountant” yang berlangsung sejak 3 Desember 2011 hingga 21 Januari 2012 mendatang, di Kampus Terpadu UMY.
Menurut Ahim, berbeda dengan guru sekolah yang benar-benar mengarahkan siswa, dosen lebih diletakkan sebagai pemberi ilmu dalam perkuliahan, dan fasilitator saja. Mahasiswa dituntut untuk tidak terpaku hanya pada apa yang diberikan oleh dosen di kelas. Mahasiswa sepantasnya mengembangkan pengetahuan mereka di berbagai sarana. “Dosen bukan segala-galanya. Logikanya, saat lulusan perguruan tinggi diwawancarai untuk masuk kerja, bukan dosen yang mewawancarai mereka. Mereka perlu referensi yang jauh lebih dari yang ada di perkuliahan” terangnya.
Mahasiswa juga dituntut untuk mandiri dalam memilih minat apa yang ingin mereka kembangkan. Fasilitas-fasilitas non-kulikuler, himpunan mahasiswa misalnya, dibentuk hanya sebagai sarana memberikan kebebasan sepenuhnya untuk mahasiswa untuk berekspresi. “Universitas hanya memberi sarana, mahasiswa harus punya ide sendiri dalm mengadakan kegiatan seminar, lomba-lomba, atau kegiatan lain. Softskill seperti ini mengantarkan mereka ke pintu dunia kerja”, jelasnya.
Salah satu pengembangan intelektual lain menurut Ahim cukup berpengaruh terhadap dunia kerja adalah kemampuan menulis menulis ilmiah. Menulis secara ilmiah menurutnya dapat mengasah mahasiswa untuk berpikir runtut, sistematis dan logis. Di dunia kerja, hal semacam itu merupakan kemampuan dasar. Ditambah lagi dalam membuat keputusan secara akurat berdasarkan data yang akan ada dalam karya ilmiah dan dunia kerja.
Terkait dunia kerja, Ahim menilai, meskipun tugas dosen adalah sebagai pengajar di kelas, dukungan dosen yang juga berpengalaman sebagai praktisi Akuntansi tetap diperlukan. Hal ini dimaksudkan agar perkuliahan tidak terpaku pada teori saja, sehingga mahasiswa memperoleh bayangan jelas. “Mahasiswa kedokteran saja pengajarnya seorang dokter. Mustahil jika seorang calon ahli keuangan daerah diajar oleh orang yang tidak tahu keuangan daerah itu seperti apa”, tandasnya.
Bridging Mahasiswa Akuntansi, merupakan program pengenalan dan penguatan kemampuan akademik serta softskill menghadapi sistem dan lingkungan belajar yang baru. Dalam program ini, para dosen akan memberikan sejumlah materi untuk tujuan tersebut, seperti kemampuan penulisan ilmiah, diskusi, presentasi, etika akademik, serta Bahasa Inggris.
published at:

on 03 December 2011 | | A comment?